baru - baru ini, di jakarta dan di beberapa wilayah, terjadi suatu demonstrasi yang saya pikir hamper menyerupai demonstrasi besar besaran seperti tahun 1998 lalu. Kalau tahun 1998 tujuan utamanya adalah keinginan rakyat untuk presiden suharto turun dari jabatannya sebagai presiden sejak 1967 (secara resmi) sampi pemilu 1997 dengan terpilihnya kembali suharto, namun demo massa baru - baru ini adalah massa menuntut agar BBM tidak atau batal dinaikan. melalui tulisan saya ini, saya ingin membahas kekecewaan saya terhadap massa yang berdemo Serta aparat keamanan yang menurut saya keduanya menjadi suatu tumbal dalam polemik demonstrasi protes kenaikan BBM lalu.
Dalam sisi lain massa yang berdemo adalah mereka rakyat yang merasa kecewa terhadap "wakil rakyat" kita yang merasa tidak pro terhadap rakyat, dan merasa dengan kenaikan BBM hanya akan menambah kesengsaraan rakyat yang dominan masyarakat kelas menengah bawah. Dengan kesadaran tersebut rakyat pun tidak hanya bisa diam, akhirnya mereka bergerak. Massa pendemo pun tidak hanya Dari kalangan kelas pekerja, mahasiswa pun ikut bergerak memperjuangkan hak rakyat (memang kalau di teliti kebelakang, dalam peristiwa kejatuhan presiden baik itu sukarno maupun suharto, mahasiswa selalu turut andil dalam peristiwa macam itu, menurut saya sejarah akan terulang). Namun dari sisi lain saya merasa demonstrasi itu semakin lama semakin tidak jelas kegunaannya, anarkis dimana - mana baik dari massa pendemo maupun aparat, pengrusakan dimana mana, bahkan tidak segan terjadi bentrok antara keduanya. Dari sisi pendemo saya mempunyai pikiran mengapa mereka bisa seanarkis itu, sebab mereka sudah lelah dengan tingkah laku pemerintah yang seharusnya mensejahterakan kehidupan rakyat indonesia namun malah kebalikannya "mereka memsejahterakan kehidupan pribadi mereka sendiri". Memang saya juga pro terhadap pembatalan kenaikan BBM, tapi saya cukup kecewa dengan keanarkisan mereka dalam berdemo. Untuk aparatpun saya sangat mengecam tindakan regresif mereka terhadap massa pendemo, saya kecewa dengan mereka dengan tindakan menghakimi massa pendemo yang tertangkap. Seakan akan, yang seharusnya aparat menjadi sahabat masyarakat malah berbalik menjadi musuh bagi masyarakat.
Dari 2 sisi tersebut, saya sedikit menarik kesimpulan, pertama untuk massa pendemo saya merasa cara mereka salah, memang ini adalah demokrasi, mengeluarkan aspirasi adalah hak bagi masyarakat, namun kalau untuk masalah anarkis saya merasa sudah cukup melewati batas, untuk aparat sendiri, saya kurang mengerti dengan sistem mereka, tapi menurut saya tidak perlu terlalu regresif dalam menghadapi massa, saya sendiripunn yakin Dari sisi lain sifat mereka tidaklah seregresif itu, tapi mungkin mereka hanya menjalankan tugas untuk mengamankan. Kita semua adalah masyarakat yang mengakui demokrasi, tidak sepantasnya beranarkisme satu sama lain, apalagi masih tinggal disuatu tempat atau negara yang sama, bila ingin berunjuk rasa, berunjuk rasalah secara damai, bilapun anarkis rasanya rakyat Indonesia pun juga akan ada rasa malas untuk mendukung, jadilah masyarakat Indonesia yang damai satu sama lain yang berpikir secara rasional, bukan menjadi bangsa yang keras yang menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar