Senin, 26 Desember 2011

now, I'm enjoying this solitude

seperti biasa, kembali saya berada di depan laptop, laptop yang bisa dibilang sudah hampir menua kalau kata kakak saya tepatnya. kali ini saya ingin menulis sesuai dengan apa yang ada dipikiran saya, tapi tidak begitu banyak ide untuk ditulis sepertinya, mungkin hanya beberapa kata.

akhir akhir ini saya lebih banyak menghabiskan kegiatan saya dirumah, entah kenapa saya jadi begitu mencintai rumah saya sekarang ini, tepatnya keluarga saya. belum lagi ditambah dengan kesibukan saya sebagai siswa kelas 3 SMA yang harus "dipaksakan" fokus terlebih dahulu ke ujian nasional dan ujian perguruan tinggi. belum lagi ditambah dengan kekosongan hidup saya sekarang ini, kekosongan yang dimaksud adalah pasangan dan tepatnya adalah pasangan untuk masa sekarang setelah saya mengakhiri dengan seorang wanita yang "dahulu dan sekarang (itupun kalau percaya)" saya sayangi. baiklah lupakan.

seminggu ini, selain bersama keluarga saya juga begitu menikmati berkumpul bersama sahabat sahabat saya disuatu kedai tempat dimana kami biasa bersenda gurau bersama, saling membagi pengalaman, ide, dan penuh dengan obrolan mengenai rencana bersama kedepannya yang berujung ke arah pembicaraan yang bisa dibilang ngalur ngidul. tapi disinilah titik balik yang saya rasakan disaat saya merasakan kesendirian masih terdapat sahabat sahabat yang mengisi kesendirian itu, oh sahabat hidup semoga akan terus kekal kebersamaan ini.

kesendirian, disini pula yang kita rasakan sebagai suatu hal yang menyakitkan hati, atau bahasa bekennya galau hehe. tapi kesendirian tidak mesti identik dengan galau sepertinya, pernah kita merasakan kesendirian adalah suatu hal untuk mengkoreksi diri ? yang saya rasakan dalam kesendirian adalah menenangkan pikiran, perasaan, dan hati. adakalanya dimana kita tidak bisa menerima kesendirian kita, tapi adakalanya pula kesendirian bisa menjadi self partner kita sendiri. dengan kesendirian kita bisa berbicara dengan hati dan perasaan kita, dengan kesendirian kita bisa mencari apa yang salah dalam diri kita. dan entah kenapa setelah saya mengakhiri hubungan saya dengan seorang wanita terakhir yang saya sayangi (kalau memang percaya) 7 bulan yang lalu, saya lebih menikmati kesendirian saya, diselingi dengan berkumpul dengan keluarga dan sahabat. kalau kata ibu saya, "bukan masalah kamu engga peka ke pacar kamu, kalian berdua masih sama sama egois, belum bisa mengendalikan ego masing masing, kamu yang lebih banyak main dan si (tidak usah disebutkan namanya) ingin perhatian yang lebih." akhirnya saya paham beberapa kesalahan dalam hubungan saya waktu itu, dan sepertinya tidak perlu dibahas, ehm atau mungkin akan dibahas dalam entri selanjutnya ya ? oke liat nanti saja.

apa kata orang mengenai sendiri, baik itu sendiri adalah sepi, sendiri adalah membosankan, sendiri adalah kegalauan, sepertinya saya tidak perduli, seorang aktivis mahasiswa angkatan tahun 60an saja berkata "berbahagialah dalam ketiadaanmu" mengapa kita tidak bisa berbahagia sedikit saja dengan kesendirian kita. untuk sekarang bisa dikatakan saya cukup menikmati kesendirian, entah apa kata orang di sekitar saya, tapi inilah pilihan saya untuk sekarang ini, cheers!

1 komentar:

  1. ga perlu pusing dengan kesendirian, itu melatih kita sebagai anak rantau nanti belajar dengan kesendirian, jauh dari orang tua dan teman-teman yang dicintai, berusaha beradaptasi dengan teman yang ada di kota baru walau sulit untuk beradaptasi tapi harus dilakuin demi mendapatkan pertemanan selama 4 tahun merantau. Untuk soal cewe, ga usah ribet. di kuliah lah masa transisi lo akan menemukan wanita yang benar2 sepikiran dengan lo, bukan wanita yang labil dan ababil, tapi wanita yang punya jati dirinya sendiri, wanita yang lebih bisa ngebuat lo dan dia menyatu.

    BalasHapus