sudah 7 tahun sejak terbunuhnya seorang aktivis HAM Munir Said Thalib.
terbunuh dalam sebuah perjalanan dari jakarta menuju amsterdam, belanda, 7 sepmtember 2004.
memang dalam kasus terbunuhnya Munir, sudah ditetapkan seorang pilot sebagai tersangka, tapi siapa pelaku intelektual asli yang sebagai promotor atau dalang utama dari kasus pembunuhan ini, sama sekali belum diketahui sampai sekarang ini yang sudah tepat 7 tahun lamanya.
dan "sang penguasa" hanya terus menggumbar janji untuk menyelesaikan kasus ini, dan membiarkan semua orang yang hampir semuanya sudah mengalami "Mosi Tidak Percaya" terhadapnya, terus menerus mendengarkan celotehannya. dan pula se akan akan pemerintah hanya diam dan mengganggap kasus ini sudah hilang dan tidak perlu dibahas kembali, mengganggap kasus ini sudah ditutup dan selesai. "Sudah 7 tahun berlalu, mau menggumbar janji apalagi, Tuan Jenderal ? mau memberi kepercayaan palsu apalagi "Two Face" perwakilan rakyat ? dimana KEADILAN ? apa pemerintah sengaja menutup nutupi kasus ini ? tidak hanya dalam kasus ini, diri saya pribadi menuntut, dimana KEADILAN HUKUM seluruh jajaran masyarakat Indonesia ? dimana kekuasaan politik yang tidak/tanpa mementingkan golongan tertentu ?
Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Di Udara
Efek Rumah Kaca
untuk Munir, dan pula untuk Soe Hok Gie.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar